RSS

PENGENALAN HIDUP #1

(Fransiskus Andri Suryadi)

Tak kusangka sebelumnya, aku kini berada di hadapan Sang Khalik dalam perbincangan hidup, yang mengajakku mengenal diri dan sesama, serta bagaimana menyelami hidup.

Kini aku masuki ruang batinku, duduk sendiri dalam pangkuan keheningan, membuka banyak perihal yang usang namun selalu baru, tua tapi selalu muda, terlupa namun tak hilang. Inilah celoteh hatiku…

JIKA AKU INGIN mengenal apa itu “hidup” hendaklah sejatinya aku mengenal “lubuk hatiku”. Jika aku ingin mengenal “lubuk hatiku” hendaklah aku mengenal siapa itu “Hidup”. Karena “hidup” itu berlingkup dalam “lubuk hatiku”, dan “Hidup”-lah yang melingkupi segala sesuatunya dalam “lubuk hatiku”. Jelasnya, hidup itu adalah harmonisasi nafas para makhluk dan nafas jagat raya, lubuk hatiku adalah seutuhnya diriku selaku makhluk berdarah luhur, dan Hidup itu adalah Sang Khalik.

SANG KHALIK adalah yang melingkupi segala sesuatu yang ada. Ia tak terselami, namun dapat ter-cipta “Wajah-Nya”. Ia tak teraba, namun ter-rasa “Kasih-Nya”. Ia tak terlihat, namun ter-karsa “Karya-Nya”.

SANG KHALIK bersinggasana dalam lubuk hatiku dan setiap sesama manusia. Lubuk hatiku bagaikan sebuah bangunan rumah yang memiliki pintu utama, banyak memiliki lorong misterius yang dilengkapi dengan sekumpulan pintu-pintu lainnya yang menjadi jalan menuju ruang-ruang maknawi. Usaha mengenal lubuk hati adalah perjalanan keluar-masuk pintu, memecahkan teka-teki dalam ruang waknawi, hingga menemukan singgasana Sang Khalik dan bersujud dihadapanNya. Jika aku hendak memasuki lubuk hati, maka mestilah aku masuk melalui pintu utama hingga kubisa memasuki pintu-pintu yang lainnya. Lubuk hatiku adalah “bangunan hatiku” dan semua pintunya terkunci. Di pintu utama saya menemukan kunci utama, dan saat itu pula aku mendapat satu kunci lain untuk membuka pintu lainnya. Setelah aku bisa membuka pintu yang lain, aku memasuki ruangannya dan menikmati keindahannya sembari mencari makna dan jalan hidupku di hadapan “kenampakkan Wajah Sang Khalik”. Setelah kuberhasil menikmati keindahannya, kutemukan makna dan arah jalan panggilan hidupku, saat itulah aku mendapatkan kunci lain untuk bisa membuka pintu lain dan memasuki ruangannya. Begitulah seterusnya bagaimana aku menyusuri lorong-lorong “bangunan hatiku” dan membuka pintu di dalamnya satu per-satu. Tidak semudah yang terbayangkan, banyak teka-teki di dalamnya yang harus aku pecahkan dan renungkan. Terkadang, aku berdiam diri dalam satu ruangan begitu lama sampai terengah-engah kehabisan nafas. Tapi tetap kuberjuang hingga kutemukan kunci yang lainnya. Begitu pula ketika aku pun sudah mendapatkan kuncinya, belum tentu aku tahu pintu mana yang harus kubuka, dan bagaimana aku harus memasukkan kunci pada pintunya pun butuh usaha, karena memang lorong-lorongnya “gelap penuh misteri”. Tak jarang ketika lemah lesu, aku lebih memilih untuk kembali masuk pada pintu yang sudah terbuka untuk bernostalgia, atau bahkan kembali ke pintu utama untuk mengurungkan diri menjelajah “bangunan hatiku”. Lantas, aku menjadi pengecut yang lebih senang dengan “apa yang di luar diriku”. Padahal tugas mulia diriku adalah menyusuri lorong-lorong “bangunan hatiku”. Bangunan hatiku adalah alasan mengapa diriku ada, diriku ada adalah hadiah sebagai sahabat seperjalanan menyusuri lorong hati dalam ruang dan waktu hingga menuju Abadi kembali pada Yang Kekal Abadi. Manusia yang merasakan begitu peliknya mengenal diri sebagai sahabat seperjalanan dalam menyusuri lubuk hati, ia akan menjadi manusia yang apatis dalam hidup. Sebaliknya, manusia yang mengenal diri sebagai sahabatnya dalam menyusuri lubuk hati, ia akan menjadi manusia yang antusias dalam hidup. Manusia yang menganggap begitu mudahnya mengenal diri, ia akan menjadi seorang yang egosentris. Sebaliknya, manusia yang menganggap begitu sulitnya mengenal diri, ia akan menjadi seorang yang berendah hati. Manusia yang dangkal mengenal dirinya sendiri begitupun ia akan serampangan menilai manusia lain dalam hidup. Sebaliknya, manusia yang begitu dalam menyelami dirinya sendiri begitupula ia akan bijaksana memandang manusia lain dalam hidup.

Setiap makhluk yang masih terikat ruang dan waktu menghirup dan menghembuskan nafasnya. Terjadilah pertukaran nafas dalam ruang dan waktu, dari yang terbaui sampai yang tak terbaui, dari yang menyesakkan sampai pada yang menyegarkan. Dinamika “hirup” dan “hembus”, “tarik” dan “lepas”, “ambil” dan “beri” hanyalah antinomi dalam hidup. Oleh sebab itu, kelirulah jika antinomi itu menjadi keyakinan dan kepastian hidup manusia. Padahal sejatinya, hidup pada dirinya sendiri adalah “mencipta” di antara hirup-hembus, “merasa” di antara tarik-lepas, “mengkarsa” di antara ambil-beri. Jika demikian, maka saat berjuang mengenal peziarahan hidup, tidak seorang manusia pun yang mengenal hidupnya dalam totalitasnya hanya dari “pertukaran nafas” (antinomi dalam hidup, baik-buruk, benar-salah, indah-jelek). Sebaliknya pun demikian, tidak seorang manusia  yang dapat menyelami hidup orang lain dalam totalitasnya. Manusia tidak dapat menjadikan dasar keyakinan dan kepastiannya untuk mengenal hidup, baik itu hidupnya sendiri maupun hidup manusia lain, hanya dengan mengandalkan “pertukaran nafas” manusia lain, antinomi dalam hidup. Sejatinya hidup hanya dikenali dan dihayati melalui daya cipta, rasa, dan karsanya sendiri untuk mengolah dan menyikapi “tegangan” dalam antinomi. Maka berhati-hatilah dan berjaga-jagalah! Objektifitas, kompromitas, dan komunitas manusia yang berusaha menjajah subjektifitas, idealitas, dan individualitas manusia, menjadi mamon bagi ruang pengenalan hidup yang sejatinya. Sebaliknya, subjektifitas, idealitas, dan individualitas manusia yang berusaha menunjukkan dirinya pada objektifitas, kompromitas, dan komunitas manusia hendaklah menjadi bahan pertimbangan untuk cipta, rasa, dan karsa, bukan penghakiman dan ancaman hidup. Dan ingatlah! Kedua golongan ini hendaklah “diam dalam kesunyataan” saat Sang Khalik mulai berpetuah. Mengapa? Karena hanya Dialah yang dapat menceritakan arti hidup dan menyelami hidup manusia dalam totalitasnya. Itulah alasan mengapa kita hidup dalam dunia tafsir dan dalam sikap menduga-duga, mencari-cari dan meraba-raba, nafsu untuk berkehendak mengetahui segala-galanya, bahkan menjadi sang khalik itu sendiri. Secara natural, manusia yang satu terpengaruh dan mempengaruhi, terjalin dan menjalin nasib hidupnya, penemuan makna dan tujuan hidupnya dengan manusia lain. Namun, jika itu menjadi keyakinan dan kepastian diri, maka yang didapat bukan “hidup” yang sejatinya, sebaliknya justru mengenal “tafsir hidup” atau bahkan “distorsi hidup”. Tidak ada keyakinan dan kepastian yang timbul dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan manusia lain. Sang waktu telah bersaksi sepanjang ruang zaman yang telah terlewati, bahwa tak ada satu keyakinan yang dapat menunjukkan Wajah Sang Khalik yang seutuhnya, begitu pula tak ada satu kepastianpun yang dapat menyelami Keagungan Sang Khalik dalam totalitasnya. Tidak ada satu keyakinanpun yang dapat memberi penghakiman dan penilaian yang murni pada wajah individu manusia dalam totalitasnya, dan tidak ada satu kepastian pun yang dapat menyelami individu manusia dalam totalitasnya. Keyakinan dan kepastian yang disepakati, yang dianggap mapan dengan bentuk-bentuk aturan dan senjata pamungkasnya, hanyalan jalan menuju pemurnian pengenalan hidup dan bukan tujuan. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dan berjaga-jagalah karena semuanya itu dapat menjadi akar masalah manusia dan pintu masuk tipu muslihat si jahat. Hai manusia, kembalilah dan tetaplah berpegang pada “Sumber Hidup”! Hai manusia berendahhatilah, bijaksanalah dalam mengenal hidup, tekunlah menyelami lubuk hati, dan setialah berpegang pada Hidup.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2012 in Uncategorized

 

SANTA VINCENTIA MARIA LOPEZ Y VICUNA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2012 in Uncategorized

 

SANTA VINCENCIA GEROSA

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2012 in Uncategorized

 

Semangat belajar

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 9, 2012 in Uncategorized

 

CROSS IN METALIC

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 8, 2012 in Uncategorized

 

The Triad: Menelusuri Jejak Siloka “Tri Panca Tunggal” Budaya Sunda—Cigugur

(Fransiskus Andri Suryadi)

 

KONSEP tiga-an dalam setiap kultur tertentu, sudah hampir pasti ada—atau bahkan selalu ada—kalau kita berusaha mengeksplorasinya. Umumnya, konsep the triad ini selalu berbasiskan kosmologi ataupun antropologi. Tidak mengherankan juga, konsep tiga-an ini justru menjadi sentral spiritualitas komunitas masyarakat kultur tertentu. Salah satu contohnya adalah spiritualitas yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Sunda di Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, dalam “Agama Djawa Sunda” (ADS).

Spiritualitas hidup mereka mengkristal dalam satu siloka “Tri Panca Tunggal”. Konsepsi “Tri Panca Tunggal” merupakan titik kulminasi dan titik singgung antara Yang Illahi (Gusti Yang Widi Wasa) dengan mikro kosmos (manusia) dan makro kosmos (alam semesta). “Tri” atau “Tiga” melambangkan tiga unsur illahi yang permanen dan satu kesatuan yaitu, Sir, Rasa, dan Karsa. “Panca” atau “lima” melambangkan lima unsur utama yang dimiliki manusia dalam hidupnya yaitu mata, kulit, telinga, hidung, lidah yang kemudian diparalelkan dengan lima unsur kosmik yaitu air, tanah, api, angin, dan manusianya itu sendiri. “Tri” dan “Panca” tersebut menjadi “manunggal” (tunggal—satu-kesatuan).

Mengenai ke-tiga-an tersebut tidak begitu banyak digali oleh orang sundanya sendiri (yang berdomisili di Cigugur), sehingga sulit sekali untuk mengembangkan konsepnya secara lebih mendetail. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahaminya, apalagi golongan anak muda. Kiranya penting sekali bagi para kaum muda untuk kembali menggali khazanah budayanya.

Dari siloka tersebut, sekiranya cukup jelas bahwa adanya tiga unsur utama dari Yang Illahi tersebut (Sir, Rasa, Karsa Yang Ilahi), mengandaikan bahwa Gusti Yang Tunggal (Gusti Sikang Sawiji-Wiji) memiliki tiga pembeda di dalam Diri-Nya sendiri tetapi tetap “manunggal” (satu).

Untuk membuat deskripsi mengenai konsep “Tri Panca Tunggal”, penulis mencoba memaparkannya melalui simbol-simbol utama yang ada di setiap ruangan yang terdapat di dalam bangunan Paseban (Keraton). Karena dengan cara inilah, kita bisa memahami konsep Tri Panca Tunggal.

Paseban adalah tempat berkumpul dan bersyukur masyarakat Sunda Cigugur dalam me-rasa-kan ketunggalan (kesatuan) selaku sang makhluk dan kemanunggalan (persatuan) di dalam Gusti Yang Widi Wasa. Umat meng-amin-i keyakinan kemanunggalan tersebut dalam pengolah-sempurnaan getaran dari tiga (Tri) unsur yang disebut Sir, Rasa, dan Karsa. Ada pun lima unsur (Panca Indera) lainnya yang berfungsi menerima sekaligus merasakan keagungan dan kemurahan Gusti.  Begitu pula dalam laku-lampah kehidupan, masyarakat Sunda Cigugur benar-benar merupakan ketunggalan selaku manusia dan kemanunggalan bersama Cipta, Rasa, dan Karsa. Ketunggalan dan kemanunggalan tersebut diwujudkan dalam tekad, ucapan serta tingkah-laku yang mencerminkan  ciri manusia seutuhnya—manusia yang otentik—dalam memancarkan pamor budaya dan bangsa dengan ketentuan hukum adikodrati.

Paseban Tri Panca Tunggal terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan yang secara keseluruhan menghadap ke arah barat. Rancangan penempatan dan arsitektural Paseban Tri Panca Tunggal ini merupakan lambang (simbol) yang menggambarkan bahwa timur-barat merupakan garis perjalanan matahari, dan juga diartikan bahwa dalam pagelaran hidup (peziarahan di dunia) ini mengandung unsur-unsur yang bersimpulan satu sama lain antara terbit dan terbenam, lahir dan mati, awal dan akhir yang dikristalisasikan dalam arti atau makna Tri Panca Tunggal.

Bangunan inti dari Paseban Tri Panca Tunggal terdiri dari lima ruangan sebagai berikut; Jinem, Pendopo Pagelaran, Srimanganti (ruangan paling depan bagian dalam Paseban), dan Dapur Ageung. Ke-lima ruangan inti—dan juga beberapa ruangan kecil lainnya—bukan hanya sebatas ruang kosong yang dihiasi dengan relief-relief , dan juga bukan sebatas ruangan yang dihiasi dengan “manik-manik” kultural, tetapi lebih dari pada itu, setiap ruangan adalah “ruang makna” dan “ruang spiritual” yang merupakan simbolisasi dari misteri Tri Panca Tunggal. Oleh sebab itu, saya akan mendeskripsikan satu-persatu dari lima ruangan inti Paseban Tri Panca Tunggal dengan beberapa simbol yang ada di dalamnya beserta makna spiritual yang hendak disampaikan.

Ruangan Jinem

Ruangan Jinem ini membujur dari arah utara ke selatan. Ruangan ini pada masa lalu dipakai sebagai tempat saresehan (ceramah) dalam pemberian dan penerimaan pengertian hidup dan kehidupan serta kejiwaan dalam mengheningankan cipta untuk mengenal dan merasakan adanya Cipta, Rasa, dan Karsa Gusti Yang Widi Wasa.

Dalam kehidupan ini, manusia harus menyadari fungsi pribadinya selaku makhluk yang diberi akal budi, kehalusan rasa, kemampuan berpikir serta mengenal adanya proses perputaran alam raya (bumi), alam rasa (diri)—di mana dalam ajaran Bapak Kiai Madrais diterangkan adanya hubungan erat antara jagat kecil dan jagat besar (alamul asgar-alamul akbar) (mikro dan makro kosmos) yang dapat diketahui dalam ajarannya yang disebut dengan ngaji badan dan ngaji rasa.

Dalam ruangan ini dapat dilihat beberpa relief pada saka (tiang) dan dinding yang menggambarkan muka Dawana dalam nyala api. Relief ini dimaksudkan untuk mengingatkan agar manusia dalam pagelaran hidup ini harus selalu waspada dalam penyaluran nafsu yang tidak jarang pula dipengaruhi amarah (sifat api) yang di sini disimbolkan dalam nyala api. Pada dinding sebelah timur terdapat relief dalam bentuk gambar “Raseksi dan Satria Pinandita” yang saling berhadapan. Relief ini  menggambarkan dan mengingatkan bahwa manusia dalam menghadapi dan memerangi nafsu buruk, sekalipun harus memakai sifat-sifat Pinandita namun tidak dibenarkan bilamana cara menghindarinya itu dengan mengasingkan diri dari kehidupan ramai. Oleh karena itu, di samping harus memiliki sifat-sifat Pinandita yang berbudi luhur, penuh rasa kehalusan, manusia juga harus memiliki sifat ksatria yang bergerak aktif dan kreatif dalam masyarakat untuk mewujudkan damai dalam cinta kasih.

Ruangan Pendopo

Dalam ruangan pendopo ini terlukis dalam dinding sebelah timur sebuah relief yang bertuliskan aksara sunda “PURWA WISADA”. Tulisan ini menggambarkan adanya Cipta dan Karsa Gusti. Purwa sama atinya dengan awal mula, dan wisada berarti cipta dan karsa adalah ketentuan sebagai hukum adikodrati. Bahwa manusia diciptakan dalam pagelaran hidup ini (dunia) tidak sekedar untuk hidup, tetapi dengan akal budinya harus mampu mengingatkan peradaban dalam mengolah-sempurnakan serta memanfaatkan Cipta Karsa Gusti yang dalam relief digambarkan dalam Burung Garuda di atas lingkaran. Lingkaran yang dilukiskan di atas garis globe yang ditunjang oleh dua ekor naga yang berkaitan satu sama lain, melambangkan dalam meningkatkan hidup dan kehidupan harus da pengertian yang sama serta jalinan kerja sama yang baik antara pria dan wanita (manusia) dengan menyadari tugas-tugas serta fungsi masing-masing selaku umat Gusti. Penggambaran untuk naga itu, dimaksudakan untuk gerak kehendak yang menyalurkan pada itikad mewujudkan dan mencapai sesuatu, atau yang biasa disebut adanya nafsu. Dalam penyaluran nafsu atau kehendak inilah yang harus selaras dengan ciri pribadi dalam cara mencapai dan melaksanakannya karena tidak jarang bahwa hidup manusia dipengaruhi oleh cara kehidupan lain di luar cara dan cirri kehidupan manusia.

Dalam lingkaran yang didukung oleh dua ekor naga dan lukisan tiga buah lengkungan yang di atasnya terdapat lima garis yang merupakan nyala api, adalah menggambarakan bahwa dalam kehidupan ini segala gerak langkah perbuatan bertitik tolak dan terpancar dari tiga unsur Sir, Rasa, dan Karsa yang kemudian pancarannya itu menyalur kepada panca indera yang tidak lepas dari adanya pengaruh-pengaruh dari lima unsur nafsu dar sifat tanah, air, angina, dan api di samping sifat manusianya itu sendiri.

Daya tarik-menarik pengaruh tersebut bergerak dan berkembang dalam kehidupan ini, yang dalam relief digambarkan dengan dua sayap  di samping nyala api di ats tiga garis seperempat lingkaran itu. Dua buah kata Purwa Wisada yang dimaksudkan untuk selalu mawas diri, selalu ingat akan fungsi hidup manusia yang harus berbudi luhur.

Pada dinding sebelah kanan tulisan “Purwa Wisada”, terdapat sebuah relief lagi yang merupakan lukisan seorang petapa di tengah motif ukiran yang di kanan-kirinya terdapat lukisan kepala Banaspati dan di atasnya ada tulisan huruf Sunda yang berbunyi “SRI RESI SUKMA KOMARA TUNGGAL”.

Di alam raya ini yang penuh corak ragam kehidupan, perputaran bumi, bulan dan bintang serta pancaran matahari yang mewujudkan sinar lemah-lembut menyegarkan dan pancaran terik tandus menghanguskan, merupakan suatu ke-Agungan Yang Widi Wasa yang mengatur kesemuanya ini.

Sri Resi adalah gambaran kasih, pancaran komara (cahaya) Maha Kuasa yang (menjiwai) mengatur segala isi alam semesta ini dengan segala kemurahannya, dari sekecil ataom sampai pada bumi (planet) yang bergerak di dalam semesta ini hanyalah tunggal Tuhan sebagai Maha Pengatur dari asal segala asal yang disebut pula dalam ajaran Bapak Kia Madrais “GUSTI PANGERAN SIKANG SAWIJI-WIJI”.

Gusti Pangeran Sikang Sawiji-Wiji adalah Tuhan Yang Maha Esa. Wiji adalah Inti. Inti dari segala kehidupan baik jagat besar maupun jagat kecil (makro dan mikro kosmos) atau alam raya, alam raga dan alam rasa.

Ruang Sri Manganti

Sri Manganti adalah sebagian ruang padaleman (ruang lebet—ruang bagian dalam) yang membujur dari arah utara ke selatan. Tempat ini dipakai pula penyelenggaraan upacar-upacara pernikahan, untuk merundingkan masalah-masalah seperti persiapan Upacara Seren Taun dan memecahkan masalah-masalah keluarga (musyawarah mufakat intern).

Dalam ruangan ini, pada empat sudut terdapat empat patung penjaga yang membawa tombak dan perisai dengan maksud melambangkan bahwa dalam segala musyawarah harus selalu waspada untuk menghindari adanya pengaruh-pengaruh dari luar sifat manusia.

Dalam ruangan ini pula ditempatkan kursi “BALE KANCANA” sebagai tempat pelaminan (khusus keluarga) yang pada masa lalu yang berfungsi sebagai “panglinggihan”.

Ruang padaleman atau ruang lebet mempunyai empat ruang berbentuk persegi yang di tengahnya terdapat pula sebuah ruangan yang merupakan bangunan tersendiri. Bangunan yang tengah ini merupakan ruangan tempat penyimpanan buku-buku sejarah dan keagamaan dari segala agama.

Dalam ruangan ini juga mengingatkan bahwa manusia harus berfikir secara luas dan jangan memandang sesuatu hanya dari satu sudut, tetapi dalam menelaah sesuatu itu harus dari segala arah untuk menemukan kepastian wujud dari hakekat hidup ini. Segala agama meskipun nama dan nampak berlainan tetapi semuanya bersumber pada Wahyu illahi yang diturunkan dalam buku-buku suci agama yang hendak mencapai tujuan yang sama yaitu menggali buku cinta kasih dari lubuk hati manusia untuk mewujudkan damai di atas bumi. Oleh karena itu, manusia harus dapat berfikir dan merasakan adanya titik persamaan. Karena sekalipun banyak perbedaan, unsure-unsur pembeda itu hanyalah merupakan cangkang (kemasan) pembawanya.

Ruang Dapur Ageung

Dapur Ageung adalah sebuah tungku perapian yang dibuat dari semen dengan hiasan empat naga pada empat sudut dan mahkota di atasnya.

Dapur persiapan ini dipakai menyalakan api hanya untuk menggambarkan adanya unsure-unsur nafsu lainya di samping sifat manusia.

Dalam relief Dapur Ageung ini dilukiskan empat ekor naga di setiap sudutnya. Sedangkan di atasnya merupakan mahkotanya. Hal ini menggambarkan adanya perikemanusiaan (mahkota) harus dapat mengatasi empat unsure nafsu lainnya, seperti; tanah, air, angin dan api yang juga sering disebut nafsu amarah.

Pada dasarnya ke-empat unsure nafsu tersebut sebagai unsure penunjang yang harus diarahkan dalam bimbingan kehalusan budi manusia terutama yang sangat memerlukan bimbingan itu bilamana sifat amarah (api) mempengaruhi sifat manusia.

Hatur Rebu Nuhun…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , , , ,

MISTISISME

(Fransiskus Andri Suryadi)

Mistisisme[1]

“Mystical experience then typically involves the intense and joyous realization of oneness with, or in, the divine, the sense that this divine One is comprehensive, all-embracing, in its being.”[2]

Mistisisme adalah pengalaman intimasi antara pribadi yang percaya dan Sumber kepercayaan. Di dalamnya terdapat medan relasional. Kalau dicermati betul, ternyata mistisisme pun sesungguhnya tidak terlepas dari ketetapan “relasi hidup” subjek–objek yang aktif, hanya saja mengalami perubahan formulasi. Relasi lebih ditekankan pada “proses intimasi” (soal kebersamaan atau kebersatuan), subjek lebih definitif menunjuk pada “individu yang percaya”, dan objek lebih definitif menunjuk pada “Sumber kepercayaan”. Mistisisme hanya mungkin bagi manusia (subjek—sang makhluk) yang memiliki kepercayaan akan Yang Ilahi (objek—Sang Khalik, Realitas Komprehensif, The Divine One, Yang Mengatasi Segalanya, Sumber Segala Sesuatu, dan Nama-Nama istimewa lainnya). Dari sudut pandang manusianya itu sendiri, kepercayaan manusia adalah tanda bukti pengakuan betapa dalamnya dan luasnya Keilahian hingga ia tak mampu menggapai-Nya dalam seluruh totalitasnya; manusia hanya bisa merasakan kehadirannya dalam ruang dan waktu. Dalam pengalaman mistik (merasakan kebersatuan sementara dengan Yang Ilahi di dalam ruang dan waktu sekaligus sekilas Dunia Keabadian), manusia bergumul dengan Yang Ilahi.

Adapun unsur-unsur umum dari mistisime, sebagai berikut: [3]

  1. Yang Ilahi dapat dikenal (kepercayaan adanya Yang Ilahi)
  2. di dalam bagian-bagian yang terdalam dari jiwa manusia (keluhuran jiwa manusia)
  3. secara eksperiensial (dunia pengalaman dan kesadaran akan kehadiran Ilahi)
  4. melalui jalan negatif (via negativa).[4]

Berdasarkan kualitas intelect (akal budi) dan temporality (kesementaraan kebersatuan dalam ruang dan waktu sekaligus Keabadian), serta proses absorption (state of mental concentration—situasi kesadaran), Mistisisme dibedakan dalam dua (2) tipe menurut karakternya masing-masing; mistisisme ekstroversi (absorpsi sebagian) dan mistisisme introversi (absorpsi lengkap).

Mistisisme ekstroversi (outward-looking)

“The subject looks out upon the multiplicity of objects in the world and sees them transfigured into a living, numinous unity, their distinctness somehow obliterated.”[5]

 

Mistisisme ekstroversi mengandaikan subjek (individu) merasakan kesatuannya  dengan semua yang ada (alam semesta) sebagai representasi kehadiran Yang Ilahi. Tipe mistisisme ini meyakini sungguh bahwa adanya kehadiran Yang Ilahi dalam alam semesta. Manusia dapat menangkap berbagai macam petunjuk kehadiran Yang Ilahi dalam alam semesta (transparansi) yang memampukannya mengatasi diri dan menembus ruang Keilahian (transendensi). Pada saat itu manusia mengalami pengalaman puitis[6]. Saat itu adalah dunia sekaligus Keabadian, pengalaman puitis adalah anugerah yang sungguh tak terkatakan. Itulah sebabnya manusia yang sampai pada pengalaman mistik sulit untuk “membentangkan” pengalamannya, bahasanya puitis dan sublime (agung, luhur). Dasar keyakinan dari mistisisme ekstroversi adalah adanya fungsi rasionalitas manusia yang meliputi proses diferensiasi, keterpisahan, dan individuasi.

Absorpsi pada mistisisme tipe ekstroversi adalah sebagian.[7] Artinya, situasi kesadaran manusia dilingkupi namun kesadarannya tidak secara total terhapuskan. Kesadaran masih berfungsi dalam hal pembedaan (distinction) antara diri dan apa yang dialami. Manusia berdiri dihadapan Yang Ilahi sebagai seorang pengamat yang berbeda yang merasakan kehadiran-Nya (di dalam  alam semesta). Jelas, pada tipe mistisisme ini, akal budi manusia memiliki peranan penting; mengandung daya yang memampukan manusia menangkap dan ditangkap Keilahian. Kesatuan subjek-objeknya tercapai melalui proses polarisasi imanensi dan transendensi; melalui celah-celah, kemungkinan-kemungkinan terbuka dalam setiap pengalaman.  Implikasi bagi individu adalah pencerahan eksistensi; individu semakin mengarahkan diri pada berbagai bentuk keutamaan, prinsip, dan nilai Keilahian; otentisitas diri dan tujuan serta makna hidupnya semakin terarah pada Yang Ilahi.


Mistisisme introversi (inward-looking)

“The subject-object distinction vanishes altogether, the mystic becomes progressively less aware of his environment and of himself as a separate individual.”[8]

Mistisisme introversi mengandaikan subjek (individu) merasakan kesatuannya  dengan jalan identifikasi (keserupaan) diri dengan Yang Ilahi. Tipe mistisisme ini meyakini sungguh bahwa jika manusia mampu menggapai sifat-sifat Keilahian (bertransendensi) maka ia dapat bersatu dengan Yang Ilahi. Pada saat itu manusia mengalami pengalaman rohani. Saat itu adalah dunia dalam Keabadian (kesatuan total), pengalaman rohani adalah anugerah yang sungguh nyata dari Pribadi Ilahi, Allah Yang Rahim. Tidak mengherankan, apabila manusia yang mengalami mistik tipe ini, bahasanya bernada cinta yang ditujukan kepada Kekasih. Dasar keyakinan dari mistisisme intraversi adalah kebenaran terakhir tentang kenyataan (Keilahian) tidak dapat diperoleh melalui pengalaman banal, pun pula tidak hanya mengandalkan akal budi semata. Sebaliknya, melalui proses “tapa diraga”; hidup asketis, amal baik, samadi, dst.

Absorpsi pada mistisisme tipe intraversi adalah lengkap.[9] Artinya, situasi kesadaran manusia dilingkupi sekaligus kesadarannya secara total terhapuskan untuk sementara waktu (ekstasis) (melebur). Kesadaran diafirmasi sepenuhnya oleh Pribadi, Sang Kekasih. Manusia ber-cinta dengan Yang Ilahi sebagai seorang kekasih rohani yang disempurnakan di dalam dirinya. Jelas, pada tipe mistisisme ini, akal budi manusia mengambil keserupaan dengan Akal Budi Yang Ilahi; merasa, berpikir, bersifat serupa dengan Sang Kekasih (senada dengan prinsip homoion)[10]. Kesatuan subjek-objeknya tercapai melalui proses divinisasi; melalui pengangkatan dan pemurnian diri dalam hidup rohani.


[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm.652-653. Ing: mysticism; Yun: mysterion, dari mytes (orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan) myein (menutup mata sendiri). Mistisisme (sebagai pengalaman mistik, dan bukan sebagai ilmu tentang pengalaman mistik) adalah pengalaman non rasional dan tidak biasa tentang realitas yang mencakup seluruh (atau sering tentang suatu realitas transenden) yang memungkinkan diri bersatu dengan realitas yang biasanya dianggap sebagai sumber atau dasar eksistensi semua hal. Mistisisme yakin bahwa pengetahuan rasional menekankan diferensiasi, keterpisahan, individuasi. Pengetahuan rasional mengubah realitas, dan karena itu bersifat ilusif.

[2] Paul Edwards- editor in Chief, The Encyclopedia of Philosophy ; Volum 5 and 6 (New York: Macmillan Publishing Co., Inc. & The Free Press, 1967), hlm. 429.

[3] Op. Cit., Lorens Bagus, hlm. 654.

[4] Ibid., hlm. 653. Via negativa adalah  metode(jalan) untuk mendekati Yang Ilahi yang sama sekali transenden dalam. Meskipun via negativa merupakan pola bagi banyak mistisisme di dunia Barat, namun terdapat beberapa alternatif yang dibedakan.

[5] Loc. Cit., Paul Edwards.

[6] Op. Cit., Lorens Bagus, hlm. 727-728. Pengalaman puitis yang penulis maksudkan, adalah pengalaman di mana manusia bersatu dengan kehadiran Yang Ilahi tanpa menghapus kesadarannya. Pendasarnanya adalah konsep nous dari Aristoteles. Nous iadalah istilah filsafat yang digunakan untuk menunjukkan Yang Ilahi (God) sebagai Akal Budi Kosmis atau Intelejensi Dunia. Aristoteles membedakannya menjadi dua aspek. Pertama, nous pathetikos, aspek pikiran yang mampu memahami dan membuat arti apa yang ada dalam pengalaman. Kedua, nous poietikos, aspek pikiran ilahi yang mampu memahami prinsip-prinsip kekal, pertama dari semua gejala. Oleh sebab itu, istilah ‘pengalaman puitis’ yang penulis maksudkan dibedakan dengan pengalaman puitis dalam ranah seni (sastra). Bandingkan dengan pemahaman puisi dan seni dalam penjelasan Hamersma, (Filsafat Eksistensi Karl Jaspers) hlm. 28-29. Artinya, bahasa komunikasi dengan ketidakhadiran atau kemungkinan yang terjadi pada puncak kesadaran manusia.

[7] Op. Cit., Lorenz Bagus, hlm. 657.

[8] Op. Cit., Paul Edwards.

[9] Loc. Cit., Lorenz Bagus.

[10] Op. Cit., Hamersma, hlm. 28, 50. Homoion dari Bahasa Yunani (homoious, “mirip”, “sama”) artinya yang sama dikenal oleh yag sama.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,