RSS

MENUNDA KEADILAN

04 Mar

(Sebastian Tanius)

Fiat justitia ruat caelum! Sebuah ungkapan yang menampilkan semangat untuk menegakkan apa yang disebut bangunan keadilan sekalipun konsekuensinya mengerikan, langit yang runtuh! Berabad lamanya ungkapan ini mengarungi khazanah ide tentang hukum, dan sampai hari ini masih menjadi jargon yang suka dicelotehkan para pendekar hukum.

Kesangsian kiranya memang perlu ada. Toh dengan metode kesangsianlah, rasionalisme dibangunkan dan kemudian membongkar dogmatisme wahyu agama yang telah merajai rasio manusia Eropa kurang lebih 1000 tahun lamanya. Bukan maksudnya di sini meniscayakan kesangsian dan rasionalisme itu. Tidak aneh kalau suatu istilah atau ungkapan tertentu dirangkai sedemikian indah supaya enak dibaca dan didengar. Apakah ungkapan itu teruji menjadi kebenaran, atau lebih jauh, apakah ungkapan itu hanya sebuah kepalsuan? Ini problem yang ingin diulas. Sedari abad-19, Friedrich Nietzche telah menggariskan bahwa yang indah, yang baik, yang tulus itu tak ubahnya topeng dari yang buruk, gelap dan bohong.

Dari sudut realita manapun dan siapapun, kita bisa berpendapat bahwa keadilan adalah barang yang paling mahal di negeri ini. Mungkin data statistik dengan jumlah kuantitatif yang didukung kecanggihan teknik penghitungan bisa menyajikan lain. Tapi fakta notoir bisa bicara lain lagi. Bahwa khalayak, saya, anda, dari yang bergelar profesor sampai tukang gorengan, yang bisa memfungsikan inderanya secara normal, sudah mahfum kalau keadilan terutama keadilan hukum yang berorientasi pada kebaikan umum, sulit dirasakan limpahan nikmatnya terutama bagi rakyat jelata. Pada kondisi seperti ini, kaum yang punya idealisme pemikiran dan sikap menjunjung keutamaan (virtue) bagi keadaban publik ibarat oase segar di padang pasir nan luas. Tampaknya modernitas tidak berbanding lurus dengan perkembangan moral hukum dalam menyongsong suatu welfare state dan keadilan sosial. Modernitas dan glob

alisasi, yang ditopang progesifitas teknologi, merangsang nafsu individu untuk survive di arena persaingan pasar bebas. Distingsi subjek-objek lalu ditambah budaya materialisme-konsumtif, dirayakan oleh individu sebagai pelaku modernitas, tak kecuali individu di Indonesia. Ini yang menjadi paradoks rasionalisme. Pun hukum tidak terlepas dari konsekuensi gejala ini. Dalam konteks Indonesia, positivisme yuridis yang berakar dari alam modern liberal-individualistik masih mendominasi baik secara ilmiah-konseptual maupun realita-praktis dunia hukum nasional. Kecenderungan dominasi ini adalah menjaga kemapanan, sialnya, ia pun kawin dengan insting modernitas sehingga kekuasaan kapitalis berdiri mengangkangi rakyat bahkan negara, termasuk juga hukum sebagai pranata negara. Dari nabi sosialis-utopis Karl Marx sampai ekonom kritis Joseph E. Stiglitz, telah memperingatkan adanya virus pasar kapitalis yang rakus, yang menjalari dunia kehidupan kita ini. Lucunya, pengangkangan itu kita rayakan saban berapa tahun sekali lewat sistem pemilihan umum yang konon demokratis. Sesungguhnya di Indonesia, tokoh-tokoh hukum nasional seperti Prof. Arief Sidharta, Prof. Soetandyo Wignjosoebroto, dan (alm.) Prof. Satjipto Rahardjo, sudah dan masih meneriaki kegelisahan mereka perihal problematika hukum dan masyarakat ini.

Benang merah sekiranya bisa kita tarik, bahwa seturut refleksi atas modernitas, makna keadilan menjadi problematis di era kehidupan saat ini. Kondisi real politic memperlihatkan betapa hukum hanya menjadi instrumen untuk mengakomodir kepentingan pelbagai pihak.

Hukum diotak-atik, ditafsirkan, dipelintir dengan logika sarana-tujuan dan untung-rugi. Hukum seakan kehilangan legitimasi yuridis formalnya karena banyak pihak menggunakan jalur “tak resmi”. Buku “Akses terhadap Keadilan: Perjuangan Masyarakat Miskin dan Kurang Beruntung untuk Menuntut Hak di Indonesia” (HuMa, Van Vollenhoven Institute, KITLV-Jakarta, Epistema Institute, 2011) menyajikan kajian empiris yang bisa menunjukkan hal itu. Wajah hukum tak sudi menengok pada keadilan. Keadilan pun tidak memiliki dayanya di dalam suatu perundang-undangan tertulis. Maka seperti gagasan yang dilontarkan oleh kaum post-strukturalis macam Jacques Derrida yang membongkar makna dunia tentang kebenaran dengan dekonstruktivistis-nya, terlihatlah bahwa gagasan keadilan tidak dapat diidentikan dengan yang legal entah itu hukum, norma, prinsip akal budi dan sebagainya, sehingga keadilan tidak berada di dalam suatu tatanan; keadilan, berlawanan dengan gagasan Walter Benjamin, pun tidak dapat dimaknai di luar tatanan itu (F. Budi Hardiman, 2007). Dari dalam tatanan, para sarjana hukum negeri ini tak ubahnya tukang aplikasi keterampilan yuridis yang disubordinasikan oleh komando pasar. Di luar tatanan, moralitas yang bersumber dari ajaran mistis-agamis rasanya sudah terdistorsi oleh nafsu pasar sehingga tidak laku bagi refleksi keadilan dan hukum.

Enigma atau aporia?

Dari kacamata dekonstruksi seperti itu, posisi keadilan ada di antara tatanan dan luar tatanan. Keadilan adalah yang tidak berkepastian. Keadilan tinggalah jejak yang terhapus oleh hujan, sehingga sulit untuk melacaknya. Ia samar-samar. Jean Baudrillard memandang ihwal tersebut sebagai sesuatu yang imajiner, sebuah “simalakrum”, saat kaburnya antara yang nyata dengan yang imajinasi belaka. Struktur dan produk hukum dibentuk sebanyak-banyaknya, pendekar hukum berseliweran dalam gempita kemewahan dan kuasa sambil cuap-cuap di televisi, dan keadilan masih menjadi enigma bagi mereka yang ada dipinggiran. Atau sudah jadi aporia? Jika keadilan sudah jadi aporia, apa lagi yang mau ditegakkan, sekalipun langit runtuh? Kalau saya, berbeda dengan seorang Nietzche yang tak gentar menghadapi nihilisme, mau menyelamatkan diri menghindari timpahan langit. Keadilan ditunda dulu. Berhalakah?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: