RSS

Menyikapi Fenomena Déjà vu

04 Mar

(Odilia Adelia T.)

Ilustrasi

Dewasa ini, sebagian dari kita pernah merasakan perasaan yang tidak biasa, yaitu pernah mengalami suatu situasi yang sebelumnya pernah terjadi. Misalnya, suatu kali sedang berjalan-jalan di suatu kota, tiba-tiba merasakan bahwa sebelumnya pernah mengalami hal serupa. Atau mungkin ketika sedang bertemu seseorang atau melakukan percakapan, seperti seolah pernah mengalami hal tersebut sebelumnya. Seringkali terjadi, seberapa keras kita mengingat kapan dan bagaimana kejadian tersebut terjadi sebelumnya, kita tetap tidak mampu untuk menjelaskan hal tersebut.

Menariknya fenomena ini bukanlah fenomena yang langka, menurut Remez Sasson (1961), pengalaman ini tampaknya sangat umum, dan bahwa sebanyak 70% individu melaporkan bahwa mereka pernah mengalami hal ini setidaknya sekali dalam hidup mereka. Bahkan Chris Moulin dari University of Leeds pernah menemukan bahwa ada seseorang yang merasa tidak perlu untuk menonton TV karena ia melaporkan bahwa ia merasa telah menonton acara TV tersebut, padahal kenyaataannya belum. Lebih hebatnya ia selalu merasa tidak perlu ke dokter untuk berobat karena ia merasa telah pergi ke dokter tersebut, bahkan ia dapat menceritakan secara rinci kejadiaan tersebut.

Déjà vu 

Dalam dunia psikologi, fenomena ini kerap disebut dengan déjà vu . Istilah déjà vu berasal dari bahasa Perancis yang secara harafiah berarti pernah lihat atau pernah merasa.[1] Dengan kata lain, déjà vu  dapat diartikan sebagai merasa mengenali atau akrab di tengah situasi yang sama sekali asing.  Menurut Chaplin (1968), timbulnya peristiwa tersebut diyakini sebagai akibat isyarat yang sudah dikenali, namun ada dalam sub-ambang kesadaran.

Ada beberapa penelitian mengenai alasan di balik terjadinya déjà vu. Menurut salah satu sumber, tidak jarang, déjà vu dikaitkan penyakit psikologis seperti skizofrenia, kecemasan atau gangguan neurologis lainnya. Akan tetapi para peneliti belum mencapai banyak keberhasilan dalam membangun hubungan antara penyakit tersebut dengan déjà vu tersebut. Beberapa penelitian menemukan bahwa déjà vu  merupakan gangguan  fungsi sistem elektrik otak. Bertolak dari penemuan tersebut déjà vu diyakini sebagai sebuah sensasi[2] yang salah dari memori. Selain itu, obat-obatan tertentu juga diyakini sebagai salah satu faktor yang bertanggung jawab terhadap déjà vu. Obat obat seperti amantadine dan phenylpropanolamine menurut penelitian yang dilakuan dapat menyebabkan perasaan déjà vu.

Teori Déjà vu 

Teori déjà vu pertama kali diperkenalkan oleh Emile Boirac, seorang peneliti psychic asal Perancis  pada tahum 1876. Sayangnya, pemikiran beliau belum tuntas sehingga dalam ilmu psikologi muncul beberapa teori mengenai déjà vu .

Ada beberapa penjelasan bahkan puluhan teori mengenai déjà vu  ini. Beberapa diantaranya adalah Sigmund Freud. Iceberg metaphor merupakan kunci penting untuk memahami déjà vu ini. Dalam metafor tersebut dikatakan bahwa sebagian besar informasi yang kita terima tersimpan di pikiran bawah sadar kita dan belum muncul ke permukaan. Hanya sebagian kecil dari informasi yang kita terima benar-benar akan kita ingat atau sadari. Menurut konsep tersebut, seseorang akan mengalami déjà vu ketika ia secara spontan teringat dengan sebuah ingatan bawah sadar. Karena ingatan itu berada pada area bawah sadar, isi ingatan tersebut tidak muncul karena dihalangi oleh pikiran sadar, namun perasaan “merasa pernah mengalami” dengan suatu peristiwa  akan muncul keluar.

Penjelasan lainnya adalah berdasarkan optical pathway delay theory. Dalam teori tersebut diakatakan bahwa sensasi optik yang diterima salah satu mata sampai ke otak kemudian dipersepsikan lebih dahulu daripada sensasi yang diterima oleh sebalah mata yang lain, sehingga mendatangkan perasaaan yang akrab pada sesuatu yang sebenarnya baru pertama kali dilihat. Teori ini pada bulan Desember 2006, dilemahkan atas penelitiaan Akira R. O’Connor yang penelitiannya menemukan bahwa MT, seorang laki-laki buta 36 tahun mengalami pola normal déjà vu .

Pendapat lainnya dikemukakan oleh Remez Sasson dalam artikelnya mengenai The Experience of Déjà vu  (2001). Ia mengemukakan bahwa ada beberapa penjelasan mengenai déjà vu . Penjelasan-penjelasan tersebut antara lain:

  • Seseorang mungkin telah melihat foto-foto tempat tersebut sebelumnya.
  • Seseorang mungkin telah membaca tentang suatu tempat atau situasi, bahkan setelah bebrapa tahun sebelumnya, dan ketika berada di tempat itu atau dalam situasi yang sama, ia merasa seolah-olah telah mengalami hal yang sama sebelumnya
  • Seseorang mungkin telah melihat film tentang pengalaman serupa, dan meskipun ia mungkin lupa melihat film tersebut, pikiran bawah sadar masih mengingat hal tersebut. Sehingga memberikan ia sensasi berupa menjadi akrab dengan hal tersebut.
  • Seseorang mungkin telah melihat tempat atau situasi atau sesuatu yang serupa dalam mimpinya. Sehingga ketika mengalaminya menjadi tampak akrab.
  • Déjà vu  juga bisa dipicu melalui panca indera. Ini bisa berupa bau, rasa makanan, dekorasi, kombinasi warna, nada suara, suara latar belakang atau hal lain yang memicu kenangan lama. Seseorang mungkin tidak sadar mengingat situasi asli yang membawa pada memori tersebut, tapi ia ingat pernah mengalaminya, dan ia mengasosiasikannya dengan pengalaman sekarang.
  • Pemandangan, pakaian atau cara berbicara dari orang atau orang-orang kebanyakan, mungkin mengingatkan seseorang tentang orang yang  pernah ia temui di masa lalu.
  • Beberapa orang mengatakan bahwa perasaan pernah mengalami ini dapat disebabkan oleh keadaan otak, misalkan oleh faktor-faktor neurochemical selama persepsi yang tidak ada hubungannya dengan memori.
  • Orang yang percaya pada reinkarnasi mengatakan bahwa ketika seseorang mengalami déjà vu  , ia  telah mengalami situasi yang sama di kehidupan sebelumnya.

Jenis-jenis Déjà vu  

Berdasarkan artikel Manali Oak mengenai “What is déjà vu?” , ada beberapa jenis Déjà vu , antara lain:

  • Deja Senti

Perasaan ini mengacu pada sesuatu yang sudah merasa. Ini  merupakan fenomena mental dimana peneliti percaya bahwa sesuatu yang dirasakan di masa lalu sangat mirip dengan yang dirasakan pada saat ini. Kesamaan dalam dua pengalaman membuat seseorang merasa bahwa ia merasakan hal yang sama di masa lalu.

  • Deja Vecu

Perasaan bahwa segala sesuatu yang terjadi saat ini identik dengan apa yang telah terjadi sebelumnya dan ide yang aneh tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, disebut sebagai deja vecu. Seseorang yang mengalami perasaan deja vecu meng-klaim untuk mengetahui apa yang akan terjadi dalam waktu dekat dan sering merasa memiliki mengingatnya.

  • Deja Visite

Perasaan setelah mengunjungi tempat yang sama sekali baru. Seseorang yang mengalami deja visite  mengklaim memiliki pengetahuan tentang sebuah tempat yang belum dikunjungi.

 

Sesuatu di Balik déjà vu  

St. Augustinus pernah mengatakan…”bercerita tentang Tuhan dan bercerita dengan Tuhan sungguhlah berbeda.” Distansi dan relasi yang menjadi unsur pembedanya. Ada jarak pembeda diantaranya. Kontras pembedaan antara subjek dari objek dan objek dari subjek melekat pada kualitas distansi. Berbeda halnya dengan kualitas relasi, di sana tertuang integritas. Distansi mengarahkan manusia pada self-being. Relasi mengantarkan manusia pada self-overcoming. Transparansi ide nampak dalam proses berdistansi. Transfigurasi ide Nampak dalam proses berelasi. Maka kebenaran diri mustahillah datang dari orang lain yang mampu bercerita tentang kita. Itu mungkin kebenaran. Sebaliknya kebenaran diri datang dari dalam diri kita. Itu sungguh kebenaran. Namun sayang, diri menjadi luluh tatkala takluk pada semu kebenaran. Lantas yang mungkin kebenaran dianggap kebenaran, yang adalah kebenaran dianggap mungkin kebenaran.

Mengkaji fenomena déjà vu  bukanlah soal yang mudah. Namun, itu pun tidak begitu sulit. Hanya saja perlu dipahami dengan waspada. Bukan hanya soal berbagai efek samping dari kelainan neurologis dan soal sensasi dari tinjauan fenomenologis yang sudah berdistansi dari sang sumber. Tetapi juga perlu disasar dari tinjaun estetis yang lebih menekankan bentuk relasi. Tentunya bukan tentang penyebab atau efek sampingnya yang ditonjolkan, namun dengan keterlibatan ekspresi yang dipelihara. Tidak ada distansi, relasi murni.

Ketika melihat lukisan yang sudah jadi, terlihatlah betapa indah dan menawan rupanya. Tidak hanya perpaduan warna, kontras, perspektif, dan segala tektek-bengek yang terlihat dalam lukisan serta sarana pendukung pekerjaan sang pelukis, tetapi juga terlihat kenikmatan sang pelukis yang mengekspresikan dirinya. Naluri dan hembusan nafasnya tersembunyi di balik lukisan tersebut.


[1] J.P Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, hlm.127, 2008, PT RajaGrafindo: Jakarta.

[2] Sensasi, dalam istilah psikologi berarti proses atau pengalaman elementer yang timbul apabila satu perangsang merangsangsang atau membangkitkan satu reseptor. (Kamus Psikologi)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 4, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: