RSS

MEMBACA SITUASI ZAMAN INI: USULAN PEMBAHARUAN ORIENTASI HIDUP

05 Mar

(Fransiskus Andri Suryadi)

MANUSIA pada zaman postmodernitas[1] dirundung duka-nestapa. Sejarah kekejaman dan disorientasi makna serta tujuan hidup asali manusia pada masa silam terulang kembali. Dan lagi, yang sungguh tragis, rangkaian bencana alam menambah beban penderitaannya akhir-akhir ini. Berbagai nubuat bencana dahsyat yang telah diwahyukan dalam berbagai kitab suci umat beragama dan tradisi kepercayaan, yang juga telah diramalkan para ahli nujum[2] serta berbagai penelitian para ahli ilmu alam (kaum intelektual—saintis)[3], kini mulai terungkapkan satu-persatu. Manusia yang serakah kini pasrah terjangkit wabah. Wabah yang mewujudkan diri dalam krisis multidimensional di berbagai aspek kehidupan serta bencana alam mondial yang tak kunjung reda.

Malapetaka itu bagaikan intaian maut yang mengancam eksistensi manusia. Sungguh ironis, zaman ini adalah zaman yang beradab tetapi juga biadab. Kini, manusia kaya akan pengetahuan, teknologi telah sampai pada kejayaannya, pembangunan sarana-prasarana hidup pun berkembang pesat, namun sikap dan perbuatan manusia yang terarah pada hasrat menguasai yang destruktif mendatangkan siksa-sengsara, dan bahkan diri dan dunianya menuju gerbang kelam penderitaan dan kehancuran. Dengan perbandingan lain, manusia semakin menguasai dunia, namun keluhuran moralitas (lingkup aktualisasi kepribadian baik intra-relasi—individu maupun inter-relasi—sosial) dilanda krisis dan jiwanya (lingkup rohani) semakin terpuruk. Kebiadaban manusia muncul dari kepicikan hati dan budi serta militanisme eksklusif-radikal yang didasari oleh egoisme tidak sehat[4]. Kebrutalan manusia zaman ini meliputi; perang antar-negara di berbagai belahan benua, terorisme (yang merusak stabilitas keamanan dunia, dan mengakibatkan pembunuhan massal) yang dimotori oleh fanatisme negatif[5] kaum religius, serta berbagai kasus yang marak menjadi sorotan publik; kekerasan rumah-tangga, mutilasi, penculikan dan pemerkosaan (pelecehan seksual), kenakalan remaja, dan sampai pada praktek bunuh diri. Globalisasi politik, ekonomi, dan budaya mengancam nilai-nilai dasariah kemanusian. Manusia tercerabut dari akar kesejatiannya, kebebasannya pun terjajah.  Ia direduksi sebagai budak belian yang terombang-ambingkan oleh berbagai ideologi yang menggiringnya pada disorientasi tujuan dan makna hidup asalinya. Ia melekatkan diri pada materi hingga terperosok pada hedonisme dan konsumerisme.[6] Ia jenuh, risih dengan adat-istiadat asalinya (kebudayaan yang membesarkannya), lantas mengingkari dan lebih menyetujui hegemonisasi. Krisis ideologi-politik, ekonomi, dan budaya pun tak terelakkan. Jabatan pemerintahan kerap kali dijadikan jalan mengeruk kekayaan daripada jalan pengabdian, harga sembako semakin tak terjangkau oleh kaum miskin dan papa, serta kematian unsur-unsur kebudayaan daerah (bahasa, lagu, alat musik, sopan santun, dll.). Alih teknologi dan kemajuan industri menggiring manusia pada ketergantungan mutlak akan kebutuhan bahan baku produksi. Hukum permintaan dan penawaran dunia ekonomi-bisnis memaksa manusia mengeksploitasi alam dengan alasan “kebutuhan manusia yang melonjak harus terpenuhi”.[7] Alam pun tak berdaya, manusia serakah (orang atau sekelompok orang tertentu, tentunya tidak semua) mengeruk habis kekayaan bumi tanpa bertanggungjawab untuk memperbaharuinya. Kelangkaan sumber daya alam hayati dan kerusakan alam (penipisan lapisan ozon, pemanasan global dan pencairan gunung es di kutub, tsunami, gunung meletus, banjir, hujan asam, deforestasi dan penggurunan) pun tak terelakkan pula. Lantas, bencana dasyat datang merenggut jutaan nyawa umat manusia serta merusak dan membumihanguskan berbagai sarana dan prasana hasil daya ciptanya sendiri. Dalam situasi terpuruk itu, krisis moneter masih saja berkelanjutan dan menambah angka kemiskinan dan kematian. Jelaslah sudah, eksistensi manusia pascamodernitas dihadapkan pada situasi-situasi batas zamannya.

Berbagai macam fakta kualitatif-historis tersebut dapat dijadikan diagnosa dalam situasi kehidupan zaman ini. Diagnosa itu menunjukkan betapa rapuhnya kehidupan manusia. Retak-retak (ketaksempurnaan) manusia sebagai “makhluk terbatas” menjadi terlihat jelas dan nyata. Ia yang dikenal sebagai makhluk yang mulia, derajat kemuliaannya disangsikan atas berbagai macam konsekuensi dari ulahnya sendiri. Lantas, apakah hidup manusia menjadi hampa dan sia-sia? Tentu saja tidak! Situasi-situasi batas zaman pascamodernitas membuka zaman baru, zaman pascasekular[8]. Berbagai krisis multidimensional dan bencana mondial tidak hanya sebatas malapetaka, tetapi juga menghadirkan misteri bagi manusia. Disadari atau tak disadari, malapetaka itu semakin mempersatukan, mempererat tali persaudaraan umat manusia untuk bersama-sama kembali bahu-membahu memperbaharui orientasi dunia yang semu guna menggapai otentisitas dirinya. Dengan kata-kata lain, manusia perlu lebih peka lagi pada tanda-tanda zamannya dan menyadari kehadiran Sang Satu, yang hampir dilupakannya.

Menyikapi tanda-tanda zaman dimaksudkan untuk memberi pandangan dasar pada manusia zaman ini (pascasekular)[9] mengenai pentingnya pemikiran filsafat eksistensi[10] Karl Theodor Jaspers. Situasi-situasi batas zaman ini memang menunjukkan betapa fana dan kerdilnya manusia, namun sekaligus menghadirkan keterbukaan akan pengharapan baru pada Sang Satu, Jaspers menyebutnya “Yang Melingkupi Segala Sesuatu Yang Melingkupi” (das Umgreifende alles Umgreifende). Boundary situations (situasi–situasi batas) adalah saat di mana manusia bereksistensi dan mengarahkan diri pada transendensi. Dengan kata-kata lain, zaman pascamodernitas disandingkan dengan zaman pascasekular. Oleh karena krisis multidimensional dan bencana alam mondial, manusia masuk ke dalam proses pemurnian diri, ia perlahan-lahan dapat mengenali “aku yang otentik” (Existenz) dalam peziarahan hidupnya dalam ruang dan waktu, hingga setelah lepas dari ruang dan waktu ia kembali berdiri di hadapan transendensi (Transzendenz) dan menjadi abadi. Berkat kerapuhan hidup yang dialaminya, manusia diundang untuk kembali  menyadari “keluhuran darahnya”, mengingat kembali bahwa ia adalah makhluk yang unik dan mulia, menggapai tujuan asalinya yakni bersatu dengan Yang Ilahi. Mengingat bahwa boundary situations hanyalah sebatas undangan terbuka, di mana ’tanda’ atau ’teks’ (chiffer) dari berbagai macam cara ber-ada dari Yang Melingkupi (das Umgreifende) diserukan—menjadi transparan, perkembangan eksistensi manusia atau dinamika ber-eksistensi-nya manusia bergantung pada kehendak bebasnya untuk menanggapi atau menolak undangan tersebut. Transzendenz tidak bisa mengingkari kebebasan manusia. Ia menunggu jawaban manusia atas undangan untuk menggapai Keabadian, berdiri di hadapan-Nya. Untuk bereksistensi, manusia harus membuat keputusan-keputusannya sendiri dalam mengisi kebebasannya. Saat kehendak bebas menetapkan keputusan-keputusannya adalah  saat dinamika perkembangan eksistensi ditentukan, entah saat itu mengantar manusia pada kemajuan ataukah ia dibenturkan pada situasi-situasi batas lainnya. Saat keputusan itu  berlaku untuk selamanya, dan menentukan kualitas eksistensinya.

Berbagai situasi batas zaman ini tidak perlu dipandang sebagai karma, ditakuti sebagai ancaman, dikhawatirkan sebagai maut yang kapan saja dapat merenggut kebebasan, cita-cita, atau bahkan hidup manusia sekalipun. Alangkah baiknya bila manusia memandang situasi batas zaman ini sebagai sapaan atau teguran Yang Ilahi dalam proses pemurnian hidup manusia. Jaspers pun, melalui kepercayaan filosofisnya, mengajak manusia untuk memandang dan menghayati situasi batas sebagai jalan pemurnian diri, mengejar otentisitas diri, kesejatian tujuan hidup, dan mempertahankan keluhuran martabatnya.

Sumber acuan:

Sari Sejarah Filsafat 2[11], Filsafat Barat dalam Abad XX[12], Filsafat Eksistensi Karl Jaspers[13], Sistem-sistem Metafisika Barat[14], Tuhan Para Filsuf dan Ilmuan[15].


[1] I. Bambang Sugiharto, Postmodernisme, (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 24. Postmodernitas adalah istilah yang menunjuk pada situasi dan tata sosial produk teknologi informasi, konsumerisme yang berlebihan, deregulasi pasar uang dan sarana publik, usangnya Negara bangsa dan penggalian kembali inspirasi-inspirasi tradisi.

[2]<http://besteasyseo.blogspot.com/2011/01/daftar-bencana-alam-terdahsyat-di-dunia.html> (18 Mei 2011), (10:48). Lihat daftar 100 bencana alam yang dahsyat. Dari seratus (100) daftar bencana tersebut, beberapa diantaranya menunjukkan bahwa ramalan Nostradamus benar adanya. Ia meramalkan bahwa Tahun 2010 adalah periode kekacauan, dan itu terbukti dengan terjadinya bencana alam dan bencana sosial yang menimpa umat manusia. (Nostradamus adalah sosok yang sangat terkenal berkaitan dengan dunia ramal-meramal. Tidak perduli bagaimana orang-orang membicarakan Nostradamus dan astrologi, buku ramalannya telah dicetak ulang selama lebih dari 400 tahun. Akhirnya, ahli bahasa dan sejarawan menyadari bahwa ramalan-ramalan Nostradamus adalah sebuah karya besar sepanjang jaman.

[3]<http://www.bmkg.go.id/BMKG_Pusat/Sestama/Hum./jump.pers tentang_klarifikasi_isu_gempa_.bmkg> (5 Juni 2011), (11.30). Di dalam jumpa pers tersebut dibicarakan soal isu bencana di Indonesia. ”Jumpa pers ini juga menghadirkan para narasumber, yaitu Dr. Cecep Subarya, Pakar Geodesi dan Geodinamika dan Manshyur Irsyam, Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB, serta dihadiri puluhan media massa dan pejabat Eselon I, II, III, dan IV.
Sebagai pembicara pertama, Cecep mengatakan daerah potensi gempa bumi di wilayah Indonesia sudah diidentifikasi dan dipetakan. “Penataan Ruang dan Wilayah harus memperhitungkan potensi bencana kebumian,”tutur Cecep.  Lebih lanjut, Cecep mengatakan bahwa perlu adanya sosialisasi ke masyarakat tentang cara-cara penyelamatan diri dari bencana kebumian.

[4] A. Mangunhardjana, ISME-ISME DARI A SAMPAI Z, (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 58-59. Egoisme yang tidak sehat adalah pandangan dan sikap hidup yang mendewakan kebutuhan ego dan penghargaan, mengutamakan kepentingan diri dan menjadikannya satu-satunya motif dan tujuan dalam segala usahanya.

[5] Giancarlo Bosetti, Iman Melawan Nalar: Perdebatan Joseph Ratzinger Melawan Juergen Habermas (Yogyakarta: Kanisius. 2009), hlm. 8-9.

[6] Op. Cit., A. Mangunhardjana. Hedonisme kerap berhenti pada pencarian kenikmatan sensual, inderawi, yang dapat dirasakan secara lebih cepat dan lebih dekat. Dari penyempitan arti itu hedonisme menjadi tak terpisahkan dari konsumerisme. Kedua-duanya menjadikan masyarakat manusia yang materialistis.

[7] Perkara tersebut menjadi keprihatinan masyarakat dunia, terutama para ecologist (ahli ilmu lingkungan hidup, dan para pencinta alam). Khususnya dalam menentang liberalisme konservatif  yang pro akan hukum permintaan dan penawaran demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia, para ecologist menyerukan harapannya agar manusia pun harus memperhatikan keseimbangan ekosistem (rumah tangga dunia) dan berusaha untuk menghindari kelangkaan sumber daya alam, baik SDA yang dapat diperbaharui maupun SDA yang tak dapat diperbaharui.

[8] Op. Cit., Giancarlo Bosetti, hlm. 18-19. Istilah pascasekular menunjuk pada beberapa hal berikut: (1) menjelaskan ciri khas zaman kita di mana tradisi-tradisi religius dan komunitas-komunitas iman mengalami suatu titik balik karena kejadian politis yang tak terduga pada tahun 1989, saat runtuhnya Tembok Berlin (ini adalah teks yang dikatakan oleh Habermas dalam buku Religion in der Offenlichkeit. Kognitive Voraussetzungen fuer den “offenlichen Vernunfgebrauch” religioeser und saekularer Buerger, ’Agama dalam wilayah publik. Premis-premis kognitif untuk “peranan nalar” dalam masyarakat religius dan sekular’, (2) sebuah dimensi kehidupan sosial dan kultural yang sungguh-sungguh berusaha menerjemahkan dan memahami bahasa religius dan non-religius secara timbal balik, (3)menutup anggapan yang menyamakan begitu saja kemajuan dengan sekularisasi (4) pentingnya fakta empiris, di mana filsafat harus memperhatikannya secara lebih serius, bukan hanya sebagai fakta sosial, tetapi juga sebagai tantangan-kognitif (Juergen Habermas). Penulis meminjam istilah pascasekular untuk mengafirmasi gejala-gejala zaman pascamodernitas yang meliputi berbagai fenomena seperti; usaha-usaha sinergis (dialog perdamaian) antara pihak religius dengan pihak religius, ataupun pihak religius dengan pihak non-religius,  dialog antara pro-life (konservatisme) dan pro-choice (liberalisme), reorientasi kemajuan tekhnologi dan penanggulangan krisis ekologi, dan terakhir secara khusus, sebagai medan di mana manusia dihadapkan pada misteri Yang Ilahi, yang tampak dalam ‘seruan’ kuasa hukum alam (bencana alam).

[9] Untuk selanjutnya penulis akan menggunakan sebutan “zaman ini”, sebagai yang menunjuk pada zaman pascaseular.

[10] Karl Jaspers-author, Richard F. Grabau-transltr., Philosophy of Existence (Philadelphia: University of Pennsylvania Press. 1971), hlm. 1.  Term “eksistensi” menunjuk langsung pada ‘kekinian’ dalam konteks metafisis.

[11] Harun Hadiwijono (Yogyakarta: Kanisius, 1980).

[12] K. Bertens (Jakarta: PT Gramedia, 1981).

[13] Harry Hamersma (Jakarta: PT Gramedia, 1985).

[14] Joko Siswanto (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998).

[15] Simon Petrus L. Tjahjadi (Yogyakarta: Kanisius, 2007).

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Uncategorized

 

2 responses to “MEMBACA SITUASI ZAMAN INI: USULAN PEMBAHARUAN ORIENTASI HIDUP

  1. valentino ritan

    Maret 5, 2012 at 5:40 am

    salam the crusier….

    nice reflection brow….
    Eksistensi manusia sbg pribadi yg bebas n merdeka zaman ini seakan-akan terhimpit di balik tirai kenistaan dan keegoisan. realitas yg demikian sadar atw tidak telah mempersempir ruang gerak manusia di dalam menjalankan perannya sbg pribadi yg bebas. keberadaan (being) dari seorang pribadi disoroti dng sebuah kecurigaan. kecurigaan ini sebetulnya bermula dari sebuah sikap hidup yang dalam bahasanya Gabriel Marcel disebut sbg “avoir”.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: