RSS

MISTISISME

05 Mar

(Fransiskus Andri Suryadi)

Mistisisme[1]

“Mystical experience then typically involves the intense and joyous realization of oneness with, or in, the divine, the sense that this divine One is comprehensive, all-embracing, in its being.”[2]

Mistisisme adalah pengalaman intimasi antara pribadi yang percaya dan Sumber kepercayaan. Di dalamnya terdapat medan relasional. Kalau dicermati betul, ternyata mistisisme pun sesungguhnya tidak terlepas dari ketetapan “relasi hidup” subjek–objek yang aktif, hanya saja mengalami perubahan formulasi. Relasi lebih ditekankan pada “proses intimasi” (soal kebersamaan atau kebersatuan), subjek lebih definitif menunjuk pada “individu yang percaya”, dan objek lebih definitif menunjuk pada “Sumber kepercayaan”. Mistisisme hanya mungkin bagi manusia (subjek—sang makhluk) yang memiliki kepercayaan akan Yang Ilahi (objek—Sang Khalik, Realitas Komprehensif, The Divine One, Yang Mengatasi Segalanya, Sumber Segala Sesuatu, dan Nama-Nama istimewa lainnya). Dari sudut pandang manusianya itu sendiri, kepercayaan manusia adalah tanda bukti pengakuan betapa dalamnya dan luasnya Keilahian hingga ia tak mampu menggapai-Nya dalam seluruh totalitasnya; manusia hanya bisa merasakan kehadirannya dalam ruang dan waktu. Dalam pengalaman mistik (merasakan kebersatuan sementara dengan Yang Ilahi di dalam ruang dan waktu sekaligus sekilas Dunia Keabadian), manusia bergumul dengan Yang Ilahi.

Adapun unsur-unsur umum dari mistisime, sebagai berikut: [3]

  1. Yang Ilahi dapat dikenal (kepercayaan adanya Yang Ilahi)
  2. di dalam bagian-bagian yang terdalam dari jiwa manusia (keluhuran jiwa manusia)
  3. secara eksperiensial (dunia pengalaman dan kesadaran akan kehadiran Ilahi)
  4. melalui jalan negatif (via negativa).[4]

Berdasarkan kualitas intelect (akal budi) dan temporality (kesementaraan kebersatuan dalam ruang dan waktu sekaligus Keabadian), serta proses absorption (state of mental concentration—situasi kesadaran), Mistisisme dibedakan dalam dua (2) tipe menurut karakternya masing-masing; mistisisme ekstroversi (absorpsi sebagian) dan mistisisme introversi (absorpsi lengkap).

Mistisisme ekstroversi (outward-looking)

“The subject looks out upon the multiplicity of objects in the world and sees them transfigured into a living, numinous unity, their distinctness somehow obliterated.”[5]

 

Mistisisme ekstroversi mengandaikan subjek (individu) merasakan kesatuannya  dengan semua yang ada (alam semesta) sebagai representasi kehadiran Yang Ilahi. Tipe mistisisme ini meyakini sungguh bahwa adanya kehadiran Yang Ilahi dalam alam semesta. Manusia dapat menangkap berbagai macam petunjuk kehadiran Yang Ilahi dalam alam semesta (transparansi) yang memampukannya mengatasi diri dan menembus ruang Keilahian (transendensi). Pada saat itu manusia mengalami pengalaman puitis[6]. Saat itu adalah dunia sekaligus Keabadian, pengalaman puitis adalah anugerah yang sungguh tak terkatakan. Itulah sebabnya manusia yang sampai pada pengalaman mistik sulit untuk “membentangkan” pengalamannya, bahasanya puitis dan sublime (agung, luhur). Dasar keyakinan dari mistisisme ekstroversi adalah adanya fungsi rasionalitas manusia yang meliputi proses diferensiasi, keterpisahan, dan individuasi.

Absorpsi pada mistisisme tipe ekstroversi adalah sebagian.[7] Artinya, situasi kesadaran manusia dilingkupi namun kesadarannya tidak secara total terhapuskan. Kesadaran masih berfungsi dalam hal pembedaan (distinction) antara diri dan apa yang dialami. Manusia berdiri dihadapan Yang Ilahi sebagai seorang pengamat yang berbeda yang merasakan kehadiran-Nya (di dalam  alam semesta). Jelas, pada tipe mistisisme ini, akal budi manusia memiliki peranan penting; mengandung daya yang memampukan manusia menangkap dan ditangkap Keilahian. Kesatuan subjek-objeknya tercapai melalui proses polarisasi imanensi dan transendensi; melalui celah-celah, kemungkinan-kemungkinan terbuka dalam setiap pengalaman.  Implikasi bagi individu adalah pencerahan eksistensi; individu semakin mengarahkan diri pada berbagai bentuk keutamaan, prinsip, dan nilai Keilahian; otentisitas diri dan tujuan serta makna hidupnya semakin terarah pada Yang Ilahi.


Mistisisme introversi (inward-looking)

“The subject-object distinction vanishes altogether, the mystic becomes progressively less aware of his environment and of himself as a separate individual.”[8]

Mistisisme introversi mengandaikan subjek (individu) merasakan kesatuannya  dengan jalan identifikasi (keserupaan) diri dengan Yang Ilahi. Tipe mistisisme ini meyakini sungguh bahwa jika manusia mampu menggapai sifat-sifat Keilahian (bertransendensi) maka ia dapat bersatu dengan Yang Ilahi. Pada saat itu manusia mengalami pengalaman rohani. Saat itu adalah dunia dalam Keabadian (kesatuan total), pengalaman rohani adalah anugerah yang sungguh nyata dari Pribadi Ilahi, Allah Yang Rahim. Tidak mengherankan, apabila manusia yang mengalami mistik tipe ini, bahasanya bernada cinta yang ditujukan kepada Kekasih. Dasar keyakinan dari mistisisme intraversi adalah kebenaran terakhir tentang kenyataan (Keilahian) tidak dapat diperoleh melalui pengalaman banal, pun pula tidak hanya mengandalkan akal budi semata. Sebaliknya, melalui proses “tapa diraga”; hidup asketis, amal baik, samadi, dst.

Absorpsi pada mistisisme tipe intraversi adalah lengkap.[9] Artinya, situasi kesadaran manusia dilingkupi sekaligus kesadarannya secara total terhapuskan untuk sementara waktu (ekstasis) (melebur). Kesadaran diafirmasi sepenuhnya oleh Pribadi, Sang Kekasih. Manusia ber-cinta dengan Yang Ilahi sebagai seorang kekasih rohani yang disempurnakan di dalam dirinya. Jelas, pada tipe mistisisme ini, akal budi manusia mengambil keserupaan dengan Akal Budi Yang Ilahi; merasa, berpikir, bersifat serupa dengan Sang Kekasih (senada dengan prinsip homoion)[10]. Kesatuan subjek-objeknya tercapai melalui proses divinisasi; melalui pengangkatan dan pemurnian diri dalam hidup rohani.


[1] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1996), hlm.652-653. Ing: mysticism; Yun: mysterion, dari mytes (orang yang mencari rahasia-rahasia kenyataan) myein (menutup mata sendiri). Mistisisme (sebagai pengalaman mistik, dan bukan sebagai ilmu tentang pengalaman mistik) adalah pengalaman non rasional dan tidak biasa tentang realitas yang mencakup seluruh (atau sering tentang suatu realitas transenden) yang memungkinkan diri bersatu dengan realitas yang biasanya dianggap sebagai sumber atau dasar eksistensi semua hal. Mistisisme yakin bahwa pengetahuan rasional menekankan diferensiasi, keterpisahan, individuasi. Pengetahuan rasional mengubah realitas, dan karena itu bersifat ilusif.

[2] Paul Edwards- editor in Chief, The Encyclopedia of Philosophy ; Volum 5 and 6 (New York: Macmillan Publishing Co., Inc. & The Free Press, 1967), hlm. 429.

[3] Op. Cit., Lorens Bagus, hlm. 654.

[4] Ibid., hlm. 653. Via negativa adalah  metode(jalan) untuk mendekati Yang Ilahi yang sama sekali transenden dalam. Meskipun via negativa merupakan pola bagi banyak mistisisme di dunia Barat, namun terdapat beberapa alternatif yang dibedakan.

[5] Loc. Cit., Paul Edwards.

[6] Op. Cit., Lorens Bagus, hlm. 727-728. Pengalaman puitis yang penulis maksudkan, adalah pengalaman di mana manusia bersatu dengan kehadiran Yang Ilahi tanpa menghapus kesadarannya. Pendasarnanya adalah konsep nous dari Aristoteles. Nous iadalah istilah filsafat yang digunakan untuk menunjukkan Yang Ilahi (God) sebagai Akal Budi Kosmis atau Intelejensi Dunia. Aristoteles membedakannya menjadi dua aspek. Pertama, nous pathetikos, aspek pikiran yang mampu memahami dan membuat arti apa yang ada dalam pengalaman. Kedua, nous poietikos, aspek pikiran ilahi yang mampu memahami prinsip-prinsip kekal, pertama dari semua gejala. Oleh sebab itu, istilah ‘pengalaman puitis’ yang penulis maksudkan dibedakan dengan pengalaman puitis dalam ranah seni (sastra). Bandingkan dengan pemahaman puisi dan seni dalam penjelasan Hamersma, (Filsafat Eksistensi Karl Jaspers) hlm. 28-29. Artinya, bahasa komunikasi dengan ketidakhadiran atau kemungkinan yang terjadi pada puncak kesadaran manusia.

[7] Op. Cit., Lorenz Bagus, hlm. 657.

[8] Op. Cit., Paul Edwards.

[9] Loc. Cit., Lorenz Bagus.

[10] Op. Cit., Hamersma, hlm. 28, 50. Homoion dari Bahasa Yunani (homoious, “mirip”, “sama”) artinya yang sama dikenal oleh yag sama.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,

2 responses to “MISTISISME

  1. ruangkelas

    Maret 5, 2012 at 11:18 am

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: