RSS

The Triad: Menelusuri Jejak Siloka “Tri Panca Tunggal” Budaya Sunda—Cigugur

05 Mar

(Fransiskus Andri Suryadi)

 

KONSEP tiga-an dalam setiap kultur tertentu, sudah hampir pasti ada—atau bahkan selalu ada—kalau kita berusaha mengeksplorasinya. Umumnya, konsep the triad ini selalu berbasiskan kosmologi ataupun antropologi. Tidak mengherankan juga, konsep tiga-an ini justru menjadi sentral spiritualitas komunitas masyarakat kultur tertentu. Salah satu contohnya adalah spiritualitas yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Sunda di Desa Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, dalam “Agama Djawa Sunda” (ADS).

Spiritualitas hidup mereka mengkristal dalam satu siloka “Tri Panca Tunggal”. Konsepsi “Tri Panca Tunggal” merupakan titik kulminasi dan titik singgung antara Yang Illahi (Gusti Yang Widi Wasa) dengan mikro kosmos (manusia) dan makro kosmos (alam semesta). “Tri” atau “Tiga” melambangkan tiga unsur illahi yang permanen dan satu kesatuan yaitu, Sir, Rasa, dan Karsa. “Panca” atau “lima” melambangkan lima unsur utama yang dimiliki manusia dalam hidupnya yaitu mata, kulit, telinga, hidung, lidah yang kemudian diparalelkan dengan lima unsur kosmik yaitu air, tanah, api, angin, dan manusianya itu sendiri. “Tri” dan “Panca” tersebut menjadi “manunggal” (tunggal—satu-kesatuan).

Mengenai ke-tiga-an tersebut tidak begitu banyak digali oleh orang sundanya sendiri (yang berdomisili di Cigugur), sehingga sulit sekali untuk mengembangkan konsepnya secara lebih mendetail. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahaminya, apalagi golongan anak muda. Kiranya penting sekali bagi para kaum muda untuk kembali menggali khazanah budayanya.

Dari siloka tersebut, sekiranya cukup jelas bahwa adanya tiga unsur utama dari Yang Illahi tersebut (Sir, Rasa, Karsa Yang Ilahi), mengandaikan bahwa Gusti Yang Tunggal (Gusti Sikang Sawiji-Wiji) memiliki tiga pembeda di dalam Diri-Nya sendiri tetapi tetap “manunggal” (satu).

Untuk membuat deskripsi mengenai konsep “Tri Panca Tunggal”, penulis mencoba memaparkannya melalui simbol-simbol utama yang ada di setiap ruangan yang terdapat di dalam bangunan Paseban (Keraton). Karena dengan cara inilah, kita bisa memahami konsep Tri Panca Tunggal.

Paseban adalah tempat berkumpul dan bersyukur masyarakat Sunda Cigugur dalam me-rasa-kan ketunggalan (kesatuan) selaku sang makhluk dan kemanunggalan (persatuan) di dalam Gusti Yang Widi Wasa. Umat meng-amin-i keyakinan kemanunggalan tersebut dalam pengolah-sempurnaan getaran dari tiga (Tri) unsur yang disebut Sir, Rasa, dan Karsa. Ada pun lima unsur (Panca Indera) lainnya yang berfungsi menerima sekaligus merasakan keagungan dan kemurahan Gusti.  Begitu pula dalam laku-lampah kehidupan, masyarakat Sunda Cigugur benar-benar merupakan ketunggalan selaku manusia dan kemanunggalan bersama Cipta, Rasa, dan Karsa. Ketunggalan dan kemanunggalan tersebut diwujudkan dalam tekad, ucapan serta tingkah-laku yang mencerminkan  ciri manusia seutuhnya—manusia yang otentik—dalam memancarkan pamor budaya dan bangsa dengan ketentuan hukum adikodrati.

Paseban Tri Panca Tunggal terdiri dari beberapa bangunan dan ruangan yang secara keseluruhan menghadap ke arah barat. Rancangan penempatan dan arsitektural Paseban Tri Panca Tunggal ini merupakan lambang (simbol) yang menggambarkan bahwa timur-barat merupakan garis perjalanan matahari, dan juga diartikan bahwa dalam pagelaran hidup (peziarahan di dunia) ini mengandung unsur-unsur yang bersimpulan satu sama lain antara terbit dan terbenam, lahir dan mati, awal dan akhir yang dikristalisasikan dalam arti atau makna Tri Panca Tunggal.

Bangunan inti dari Paseban Tri Panca Tunggal terdiri dari lima ruangan sebagai berikut; Jinem, Pendopo Pagelaran, Srimanganti (ruangan paling depan bagian dalam Paseban), dan Dapur Ageung. Ke-lima ruangan inti—dan juga beberapa ruangan kecil lainnya—bukan hanya sebatas ruang kosong yang dihiasi dengan relief-relief , dan juga bukan sebatas ruangan yang dihiasi dengan “manik-manik” kultural, tetapi lebih dari pada itu, setiap ruangan adalah “ruang makna” dan “ruang spiritual” yang merupakan simbolisasi dari misteri Tri Panca Tunggal. Oleh sebab itu, saya akan mendeskripsikan satu-persatu dari lima ruangan inti Paseban Tri Panca Tunggal dengan beberapa simbol yang ada di dalamnya beserta makna spiritual yang hendak disampaikan.

Ruangan Jinem

Ruangan Jinem ini membujur dari arah utara ke selatan. Ruangan ini pada masa lalu dipakai sebagai tempat saresehan (ceramah) dalam pemberian dan penerimaan pengertian hidup dan kehidupan serta kejiwaan dalam mengheningankan cipta untuk mengenal dan merasakan adanya Cipta, Rasa, dan Karsa Gusti Yang Widi Wasa.

Dalam kehidupan ini, manusia harus menyadari fungsi pribadinya selaku makhluk yang diberi akal budi, kehalusan rasa, kemampuan berpikir serta mengenal adanya proses perputaran alam raya (bumi), alam rasa (diri)—di mana dalam ajaran Bapak Kiai Madrais diterangkan adanya hubungan erat antara jagat kecil dan jagat besar (alamul asgar-alamul akbar) (mikro dan makro kosmos) yang dapat diketahui dalam ajarannya yang disebut dengan ngaji badan dan ngaji rasa.

Dalam ruangan ini dapat dilihat beberpa relief pada saka (tiang) dan dinding yang menggambarkan muka Dawana dalam nyala api. Relief ini dimaksudkan untuk mengingatkan agar manusia dalam pagelaran hidup ini harus selalu waspada dalam penyaluran nafsu yang tidak jarang pula dipengaruhi amarah (sifat api) yang di sini disimbolkan dalam nyala api. Pada dinding sebelah timur terdapat relief dalam bentuk gambar “Raseksi dan Satria Pinandita” yang saling berhadapan. Relief ini  menggambarkan dan mengingatkan bahwa manusia dalam menghadapi dan memerangi nafsu buruk, sekalipun harus memakai sifat-sifat Pinandita namun tidak dibenarkan bilamana cara menghindarinya itu dengan mengasingkan diri dari kehidupan ramai. Oleh karena itu, di samping harus memiliki sifat-sifat Pinandita yang berbudi luhur, penuh rasa kehalusan, manusia juga harus memiliki sifat ksatria yang bergerak aktif dan kreatif dalam masyarakat untuk mewujudkan damai dalam cinta kasih.

Ruangan Pendopo

Dalam ruangan pendopo ini terlukis dalam dinding sebelah timur sebuah relief yang bertuliskan aksara sunda “PURWA WISADA”. Tulisan ini menggambarkan adanya Cipta dan Karsa Gusti. Purwa sama atinya dengan awal mula, dan wisada berarti cipta dan karsa adalah ketentuan sebagai hukum adikodrati. Bahwa manusia diciptakan dalam pagelaran hidup ini (dunia) tidak sekedar untuk hidup, tetapi dengan akal budinya harus mampu mengingatkan peradaban dalam mengolah-sempurnakan serta memanfaatkan Cipta Karsa Gusti yang dalam relief digambarkan dalam Burung Garuda di atas lingkaran. Lingkaran yang dilukiskan di atas garis globe yang ditunjang oleh dua ekor naga yang berkaitan satu sama lain, melambangkan dalam meningkatkan hidup dan kehidupan harus da pengertian yang sama serta jalinan kerja sama yang baik antara pria dan wanita (manusia) dengan menyadari tugas-tugas serta fungsi masing-masing selaku umat Gusti. Penggambaran untuk naga itu, dimaksudakan untuk gerak kehendak yang menyalurkan pada itikad mewujudkan dan mencapai sesuatu, atau yang biasa disebut adanya nafsu. Dalam penyaluran nafsu atau kehendak inilah yang harus selaras dengan ciri pribadi dalam cara mencapai dan melaksanakannya karena tidak jarang bahwa hidup manusia dipengaruhi oleh cara kehidupan lain di luar cara dan cirri kehidupan manusia.

Dalam lingkaran yang didukung oleh dua ekor naga dan lukisan tiga buah lengkungan yang di atasnya terdapat lima garis yang merupakan nyala api, adalah menggambarakan bahwa dalam kehidupan ini segala gerak langkah perbuatan bertitik tolak dan terpancar dari tiga unsur Sir, Rasa, dan Karsa yang kemudian pancarannya itu menyalur kepada panca indera yang tidak lepas dari adanya pengaruh-pengaruh dari lima unsur nafsu dar sifat tanah, air, angina, dan api di samping sifat manusianya itu sendiri.

Daya tarik-menarik pengaruh tersebut bergerak dan berkembang dalam kehidupan ini, yang dalam relief digambarkan dengan dua sayap  di samping nyala api di ats tiga garis seperempat lingkaran itu. Dua buah kata Purwa Wisada yang dimaksudkan untuk selalu mawas diri, selalu ingat akan fungsi hidup manusia yang harus berbudi luhur.

Pada dinding sebelah kanan tulisan “Purwa Wisada”, terdapat sebuah relief lagi yang merupakan lukisan seorang petapa di tengah motif ukiran yang di kanan-kirinya terdapat lukisan kepala Banaspati dan di atasnya ada tulisan huruf Sunda yang berbunyi “SRI RESI SUKMA KOMARA TUNGGAL”.

Di alam raya ini yang penuh corak ragam kehidupan, perputaran bumi, bulan dan bintang serta pancaran matahari yang mewujudkan sinar lemah-lembut menyegarkan dan pancaran terik tandus menghanguskan, merupakan suatu ke-Agungan Yang Widi Wasa yang mengatur kesemuanya ini.

Sri Resi adalah gambaran kasih, pancaran komara (cahaya) Maha Kuasa yang (menjiwai) mengatur segala isi alam semesta ini dengan segala kemurahannya, dari sekecil ataom sampai pada bumi (planet) yang bergerak di dalam semesta ini hanyalah tunggal Tuhan sebagai Maha Pengatur dari asal segala asal yang disebut pula dalam ajaran Bapak Kia Madrais “GUSTI PANGERAN SIKANG SAWIJI-WIJI”.

Gusti Pangeran Sikang Sawiji-Wiji adalah Tuhan Yang Maha Esa. Wiji adalah Inti. Inti dari segala kehidupan baik jagat besar maupun jagat kecil (makro dan mikro kosmos) atau alam raya, alam raga dan alam rasa.

Ruang Sri Manganti

Sri Manganti adalah sebagian ruang padaleman (ruang lebet—ruang bagian dalam) yang membujur dari arah utara ke selatan. Tempat ini dipakai pula penyelenggaraan upacar-upacara pernikahan, untuk merundingkan masalah-masalah seperti persiapan Upacara Seren Taun dan memecahkan masalah-masalah keluarga (musyawarah mufakat intern).

Dalam ruangan ini, pada empat sudut terdapat empat patung penjaga yang membawa tombak dan perisai dengan maksud melambangkan bahwa dalam segala musyawarah harus selalu waspada untuk menghindari adanya pengaruh-pengaruh dari luar sifat manusia.

Dalam ruangan ini pula ditempatkan kursi “BALE KANCANA” sebagai tempat pelaminan (khusus keluarga) yang pada masa lalu yang berfungsi sebagai “panglinggihan”.

Ruang padaleman atau ruang lebet mempunyai empat ruang berbentuk persegi yang di tengahnya terdapat pula sebuah ruangan yang merupakan bangunan tersendiri. Bangunan yang tengah ini merupakan ruangan tempat penyimpanan buku-buku sejarah dan keagamaan dari segala agama.

Dalam ruangan ini juga mengingatkan bahwa manusia harus berfikir secara luas dan jangan memandang sesuatu hanya dari satu sudut, tetapi dalam menelaah sesuatu itu harus dari segala arah untuk menemukan kepastian wujud dari hakekat hidup ini. Segala agama meskipun nama dan nampak berlainan tetapi semuanya bersumber pada Wahyu illahi yang diturunkan dalam buku-buku suci agama yang hendak mencapai tujuan yang sama yaitu menggali buku cinta kasih dari lubuk hati manusia untuk mewujudkan damai di atas bumi. Oleh karena itu, manusia harus dapat berfikir dan merasakan adanya titik persamaan. Karena sekalipun banyak perbedaan, unsure-unsur pembeda itu hanyalah merupakan cangkang (kemasan) pembawanya.

Ruang Dapur Ageung

Dapur Ageung adalah sebuah tungku perapian yang dibuat dari semen dengan hiasan empat naga pada empat sudut dan mahkota di atasnya.

Dapur persiapan ini dipakai menyalakan api hanya untuk menggambarkan adanya unsure-unsur nafsu lainya di samping sifat manusia.

Dalam relief Dapur Ageung ini dilukiskan empat ekor naga di setiap sudutnya. Sedangkan di atasnya merupakan mahkotanya. Hal ini menggambarkan adanya perikemanusiaan (mahkota) harus dapat mengatasi empat unsure nafsu lainnya, seperti; tanah, air, angin dan api yang juga sering disebut nafsu amarah.

Pada dasarnya ke-empat unsure nafsu tersebut sebagai unsure penunjang yang harus diarahkan dalam bimbingan kehalusan budi manusia terutama yang sangat memerlukan bimbingan itu bilamana sifat amarah (api) mempengaruhi sifat manusia.

Hatur Rebu Nuhun…

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 5, 2012 in Uncategorized

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: