RSS

PENGENALAN HIDUP #1

11 Mar

(Fransiskus Andri Suryadi)

Tak kusangka sebelumnya, aku kini berada di hadapan Sang Khalik dalam perbincangan hidup, yang mengajakku mengenal diri dan sesama, serta bagaimana menyelami hidup.

Kini aku masuki ruang batinku, duduk sendiri dalam pangkuan keheningan, membuka banyak perihal yang usang namun selalu baru, tua tapi selalu muda, terlupa namun tak hilang. Inilah celoteh hatiku…

JIKA AKU INGIN mengenal apa itu “hidup” hendaklah sejatinya aku mengenal “lubuk hatiku”. Jika aku ingin mengenal “lubuk hatiku” hendaklah aku mengenal siapa itu “Hidup”. Karena “hidup” itu berlingkup dalam “lubuk hatiku”, dan “Hidup”-lah yang melingkupi segala sesuatunya dalam “lubuk hatiku”. Jelasnya, hidup itu adalah harmonisasi nafas para makhluk dan nafas jagat raya, lubuk hatiku adalah seutuhnya diriku selaku makhluk berdarah luhur, dan Hidup itu adalah Sang Khalik.

SANG KHALIK adalah yang melingkupi segala sesuatu yang ada. Ia tak terselami, namun dapat ter-cipta “Wajah-Nya”. Ia tak teraba, namun ter-rasa “Kasih-Nya”. Ia tak terlihat, namun ter-karsa “Karya-Nya”.

SANG KHALIK bersinggasana dalam lubuk hatiku dan setiap sesama manusia. Lubuk hatiku bagaikan sebuah bangunan rumah yang memiliki pintu utama, banyak memiliki lorong misterius yang dilengkapi dengan sekumpulan pintu-pintu lainnya yang menjadi jalan menuju ruang-ruang maknawi. Usaha mengenal lubuk hati adalah perjalanan keluar-masuk pintu, memecahkan teka-teki dalam ruang waknawi, hingga menemukan singgasana Sang Khalik dan bersujud dihadapanNya. Jika aku hendak memasuki lubuk hati, maka mestilah aku masuk melalui pintu utama hingga kubisa memasuki pintu-pintu yang lainnya. Lubuk hatiku adalah “bangunan hatiku” dan semua pintunya terkunci. Di pintu utama saya menemukan kunci utama, dan saat itu pula aku mendapat satu kunci lain untuk membuka pintu lainnya. Setelah aku bisa membuka pintu yang lain, aku memasuki ruangannya dan menikmati keindahannya sembari mencari makna dan jalan hidupku di hadapan “kenampakkan Wajah Sang Khalik”. Setelah kuberhasil menikmati keindahannya, kutemukan makna dan arah jalan panggilan hidupku, saat itulah aku mendapatkan kunci lain untuk bisa membuka pintu lain dan memasuki ruangannya. Begitulah seterusnya bagaimana aku menyusuri lorong-lorong “bangunan hatiku” dan membuka pintu di dalamnya satu per-satu. Tidak semudah yang terbayangkan, banyak teka-teki di dalamnya yang harus aku pecahkan dan renungkan. Terkadang, aku berdiam diri dalam satu ruangan begitu lama sampai terengah-engah kehabisan nafas. Tapi tetap kuberjuang hingga kutemukan kunci yang lainnya. Begitu pula ketika aku pun sudah mendapatkan kuncinya, belum tentu aku tahu pintu mana yang harus kubuka, dan bagaimana aku harus memasukkan kunci pada pintunya pun butuh usaha, karena memang lorong-lorongnya “gelap penuh misteri”. Tak jarang ketika lemah lesu, aku lebih memilih untuk kembali masuk pada pintu yang sudah terbuka untuk bernostalgia, atau bahkan kembali ke pintu utama untuk mengurungkan diri menjelajah “bangunan hatiku”. Lantas, aku menjadi pengecut yang lebih senang dengan “apa yang di luar diriku”. Padahal tugas mulia diriku adalah menyusuri lorong-lorong “bangunan hatiku”. Bangunan hatiku adalah alasan mengapa diriku ada, diriku ada adalah hadiah sebagai sahabat seperjalanan menyusuri lorong hati dalam ruang dan waktu hingga menuju Abadi kembali pada Yang Kekal Abadi. Manusia yang merasakan begitu peliknya mengenal diri sebagai sahabat seperjalanan dalam menyusuri lubuk hati, ia akan menjadi manusia yang apatis dalam hidup. Sebaliknya, manusia yang mengenal diri sebagai sahabatnya dalam menyusuri lubuk hati, ia akan menjadi manusia yang antusias dalam hidup. Manusia yang menganggap begitu mudahnya mengenal diri, ia akan menjadi seorang yang egosentris. Sebaliknya, manusia yang menganggap begitu sulitnya mengenal diri, ia akan menjadi seorang yang berendah hati. Manusia yang dangkal mengenal dirinya sendiri begitupun ia akan serampangan menilai manusia lain dalam hidup. Sebaliknya, manusia yang begitu dalam menyelami dirinya sendiri begitupula ia akan bijaksana memandang manusia lain dalam hidup.

Setiap makhluk yang masih terikat ruang dan waktu menghirup dan menghembuskan nafasnya. Terjadilah pertukaran nafas dalam ruang dan waktu, dari yang terbaui sampai yang tak terbaui, dari yang menyesakkan sampai pada yang menyegarkan. Dinamika “hirup” dan “hembus”, “tarik” dan “lepas”, “ambil” dan “beri” hanyalah antinomi dalam hidup. Oleh sebab itu, kelirulah jika antinomi itu menjadi keyakinan dan kepastian hidup manusia. Padahal sejatinya, hidup pada dirinya sendiri adalah “mencipta” di antara hirup-hembus, “merasa” di antara tarik-lepas, “mengkarsa” di antara ambil-beri. Jika demikian, maka saat berjuang mengenal peziarahan hidup, tidak seorang manusia pun yang mengenal hidupnya dalam totalitasnya hanya dari “pertukaran nafas” (antinomi dalam hidup, baik-buruk, benar-salah, indah-jelek). Sebaliknya pun demikian, tidak seorang manusia  yang dapat menyelami hidup orang lain dalam totalitasnya. Manusia tidak dapat menjadikan dasar keyakinan dan kepastiannya untuk mengenal hidup, baik itu hidupnya sendiri maupun hidup manusia lain, hanya dengan mengandalkan “pertukaran nafas” manusia lain, antinomi dalam hidup. Sejatinya hidup hanya dikenali dan dihayati melalui daya cipta, rasa, dan karsanya sendiri untuk mengolah dan menyikapi “tegangan” dalam antinomi. Maka berhati-hatilah dan berjaga-jagalah! Objektifitas, kompromitas, dan komunitas manusia yang berusaha menjajah subjektifitas, idealitas, dan individualitas manusia, menjadi mamon bagi ruang pengenalan hidup yang sejatinya. Sebaliknya, subjektifitas, idealitas, dan individualitas manusia yang berusaha menunjukkan dirinya pada objektifitas, kompromitas, dan komunitas manusia hendaklah menjadi bahan pertimbangan untuk cipta, rasa, dan karsa, bukan penghakiman dan ancaman hidup. Dan ingatlah! Kedua golongan ini hendaklah “diam dalam kesunyataan” saat Sang Khalik mulai berpetuah. Mengapa? Karena hanya Dialah yang dapat menceritakan arti hidup dan menyelami hidup manusia dalam totalitasnya. Itulah alasan mengapa kita hidup dalam dunia tafsir dan dalam sikap menduga-duga, mencari-cari dan meraba-raba, nafsu untuk berkehendak mengetahui segala-galanya, bahkan menjadi sang khalik itu sendiri. Secara natural, manusia yang satu terpengaruh dan mempengaruhi, terjalin dan menjalin nasib hidupnya, penemuan makna dan tujuan hidupnya dengan manusia lain. Namun, jika itu menjadi keyakinan dan kepastian diri, maka yang didapat bukan “hidup” yang sejatinya, sebaliknya justru mengenal “tafsir hidup” atau bahkan “distorsi hidup”. Tidak ada keyakinan dan kepastian yang timbul dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan manusia lain. Sang waktu telah bersaksi sepanjang ruang zaman yang telah terlewati, bahwa tak ada satu keyakinan yang dapat menunjukkan Wajah Sang Khalik yang seutuhnya, begitu pula tak ada satu kepastianpun yang dapat menyelami Keagungan Sang Khalik dalam totalitasnya. Tidak ada satu keyakinanpun yang dapat memberi penghakiman dan penilaian yang murni pada wajah individu manusia dalam totalitasnya, dan tidak ada satu kepastian pun yang dapat menyelami individu manusia dalam totalitasnya. Keyakinan dan kepastian yang disepakati, yang dianggap mapan dengan bentuk-bentuk aturan dan senjata pamungkasnya, hanyalan jalan menuju pemurnian pengenalan hidup dan bukan tujuan. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dan berjaga-jagalah karena semuanya itu dapat menjadi akar masalah manusia dan pintu masuk tipu muslihat si jahat. Hai manusia, kembalilah dan tetaplah berpegang pada “Sumber Hidup”! Hai manusia berendahhatilah, bijaksanalah dalam mengenal hidup, tekunlah menyelami lubuk hati, dan setialah berpegang pada Hidup.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: